Momentum Ramadan 1447 H, Senator Mirah Desak Stabilitas Harga Cabai dan Perlindungan Daya Beli Masyarakat NTB
Harga cabai rawit di NTB tembus Rp180 ribu/kg saat Ramadan 1447 H. Senator Mirah Midadan Fahmid desak pemerintah ambil langkah konkret atasi lonjakan harga dan tindak tegas spekulan. Baca selengkapnya di sini.
OPINI
MB
2/25/20262 min read


MMF - Momentum bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang seharusnya menjadi waktu penuh ketenangan dan keberkahan bagi masyarakat justru dihadapkan pada tantangan ekonomi, khususnya lonjakan harga cabai rawit yang menembus angka di atas Rp100 ribu hingga Rp180 ribu per kilogram di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Menanggapi kondisi tersebut, Senator NTB, Mirah Midadan Fahmid, menyampaikan keprihatinannya dan mendesak langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga serta melindungi daya beli masyarakat.
Dalam keterangannya, Senator Mirah menegaskan bahwa lonjakan harga cabai yang terjadi menjelang dan selama Ramadan bukan sekadar persoalan fluktuasi pasar biasa, melainkan persoalan serius yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya kelompok ekonomi menengah ke bawah. Ia menilai bahwa cabai merupakan komoditas pokok yang memiliki peran penting dalam konsumsi harian masyarakat NTB.
“Ramadan adalah momentum spiritual yang seharusnya memberikan ketenangan bagi masyarakat, bukan justru menambah beban ekonomi akibat lonjakan harga kebutuhan pokok. Pemerintah harus memastikan bahwa stabilitas harga pangan tetap terjaga, terutama komoditas penting seperti cabai rawit,” ujar Senator Mirah.
Senator Mirah juga mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Provinsi NTB yang telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Ketahanan Pangan, Tim Satgas Pangan, serta upaya mendatangkan pasokan cabai dari luar daerah seperti Jawa Tengah untuk menambah suplai. Namun demikian, ia menekankan bahwa langkah jangka pendek tersebut harus diiringi dengan strategi jangka panjang yang lebih sistematis.
BACA JUGA : Senator Mirah Dorong Penguatan Kesiapsiagaan NTB Hadapi Cuaca Ekstrem Jelang Nataru
“Distribusi antar daerah memang dapat menjadi solusi sementara, tetapi kita juga harus memperkuat ketahanan pangan daerah dengan mendukung petani lokal, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperbaiki sistem distribusi agar tidak terjadi kelangkaan yang berulang,” jelasnya.
Lebih lanjut, Senator Mirah menyoroti kemungkinan adanya praktik spekulasi atau permainan harga oleh oknum tertentu. Ia mendukung penuh langkah aparat penegak hukum dan Satgas Pangan untuk melakukan investigasi secara menyeluruh apabila ditemukan indikasi pelanggaran.
“Jika benar terdapat permainan spekulan yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk meraup keuntungan berlebihan, maka tindakan tegas harus dilakukan. Negara tidak boleh kalah oleh praktik yang merugikan masyarakat luas,” tegasnya.
BACA JUGA : Senator Mirah Minta Langkah Konkret Pemerintah Daerah Kawal Distribusi dan Harga Beras di NTB
Selain itu, Senator Mirah juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat sistem pemantauan harga secara real-time dan meningkatkan koordinasi lintas sektor guna mengantisipasi lonjakan harga, khususnya pada komoditas strategis. Ia menilai bahwa cuaca ekstrem memang menjadi faktor utama berkurangnya produksi, namun mitigasi risiko harus menjadi bagian dari perencanaan ketahanan pangan daerah.
Menurutnya, momentum Ramadan harus dimanfaatkan sebagai pengingat pentingnya kemandirian pangan dan keberpihakan pada kesejahteraan rakyat. Pemerintah, petani, pelaku distribusi, dan seluruh stakeholder perlu bersinergi untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga.
“Negara harus hadir dan memastikan masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang, tanpa dihantui kekhawatiran terhadap lonjakan harga kebutuhan pokok. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal keadilan dan kesejahteraan rakyat,” pungkas Senator Mirah.***
