Senator Mirah: MotoGP Mandalika Harus Jadi Panggung UMKM NTB Naik Kelas

Mirah Midadan Fahmid, mengapresiasi langkah Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB yang memfasilitasi 25 UMKM dari 10 kabupaten/kota untuk berjualan di kawasan Sirkuit Mandalika pada gelaran MotoGP 2026.

OPINI

MB

10/11/20263 min read

MMF - Senator DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid, mengapresiasi langkah Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB yang memfasilitasi 25 UMKM dari 10 kabupaten/kota untuk berjualan di kawasan Sirkuit Mandalika pada gelaran MotoGP 2026.

Menurut Mirah, keterlibatan UMKM dalam event olahraga internasional seperti MotoGP merupakan peluang penting untuk memperluas pasar sekaligus memperkenalkan produk lokal NTB kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Potensi pasar tersebut cukup besar. Penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 menargetkan lebih dari 145 ribu penonton, meningkat dari 140.324 penonton pada 2025. Besarnya arus pengunjung tersebut membuka ruang bagi produk lokal NTB untuk memperoleh pasar sekaligus eksposur yang lebih luas selama penyelenggaraan event.

“Keikutsertaan UMKM dalam MotoGP bukan hanya soal berjualan selama tiga hari. Ini adalah kesempatan bagi produk-produk lokal NTB untuk tampil di panggung internasional, mendapatkan pengalaman baru, dan membangun standar usaha yang lebih profesional,” ujar Mirah.

Ia menilai proses kurasi yang dilakukan Disperindag NTB bersama pihak terkait merupakan langkah positif. Persyaratan mengenai tampilan stan, kemasan, kebersihan, hingga pelayanan menurutnya perlu dilihat sebagai bagian dari proses peningkatan kualitas UMKM, bukan sebagai beban tambahan bagi pelaku usaha.

“Kalau UMKM kita ingin masuk ke pasar yang lebih luas, standar produknya memang harus terus ditingkatkan. MotoGP bisa menjadi ruang belajar yang sangat baik agar pelaku usaha terbiasa dengan standar pelayanan dan kebersihan dalam event berskala internasional,” katanya.

Mirah juga memberikan perhatian terhadap upaya Disperindag NTB mendorong keseragaman harga produk sejenis. Menurutnya, kebijakan tersebut penting untuk menjaga kenyamanan konsumen sekaligus membangun citra positif UMKM NTB.

“Jangan sampai pengunjung merasa dirugikan karena menemukan perbedaan harga yang terlalu jauh untuk produk yang sama. Transparansi dan kewajaran harga justru akan membangun kepercayaan konsumen terhadap produk UMKM kita,” ujarnya.

Lebih jauh, Mirah berharap manfaat ekonomi MotoGP tidak hanya terkonsentrasi di dalam kawasan Sirkuit Mandalika. Aktivitas ekonomi masyarakat di sepanjang jalur menuju kawasan pariwisata, termasuk pelaku usaha kuliner, penginapan, transportasi, kerajinan, fesyen, hingga ekonomi kreatif, harus ikut mendapatkan manfaat.

Pengalaman 2025 menunjukkan bahwa dampak tersebut dapat menjangkau pelaku usaha dalam skala yang lebih luas. Lebih dari 600 UMKM lokal memperoleh manfaat dari aktivitas MotoGP, sementara 202 UMKM kuliner dan kerajinan terlibat langsung dalam penyelenggaraan event. Hal ini menunjukkan bahwa ruang keterlibatan UMKM tidak harus terbatas pada pelaku usaha yang memiliki stan di dalam sirkuit.

Menurutnya, MotoGP merupakan momentum untuk menciptakan multiplier effect yang lebih luas bagi perekonomian daerah. Tingginya kunjungan wisatawan semestinya diterjemahkan menjadi peningkatan transaksi, pendapatan masyarakat, dan kesempatan kerja.

“Jangan hanya 25 UMKM yang mendapatkan manfaat. Mereka yang berada di luar sirkuit juga harus ikut merasakan dampak ekonomi dari meningkatnya kunjungan. Ini yang harus kita dorong bersama,” tutur Mirah.

Ia juga mendorong agar Disperindag melakukan pendampingan setelah MotoGP selesai. Data mengenai omzet, produk yang paling diminati, respons konsumen, serta kendala yang dihadapi pelaku UMKM dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan UMKM yang berpotensi mengikuti event internasional berikutnya.

“Yang kita cari bukan sekadar UMKM yang laku selama MotoGP, tetapi UMKM yang setelah MotoGP menjadi lebih kuat, lebih profesional, dan mampu masuk ke pasar yang lebih besar,” jelasnya.

Mirah berharap pengalaman 25 UMKM yang terlibat tahun ini dapat menjadi model pembinaan berkelanjutan. Pelaku usaha yang berhasil memenuhi standar event internasional dapat didorong untuk naik kelas melalui akses pembiayaan, sertifikasi, digitalisasi pemasaran, penguatan kemasan, serta perluasan jejaring pasar.

“Kalau MotoGP adalah etalase dunia, maka UMKM NTB harus menjadi salah satu wajah yang ditampilkan di dalamnya. Kita ingin wisatawan datang bukan hanya membawa kenangan dari Mandalika, tetapi juga pulang dengan membawa produk NTB,” pungkas Mirah.

Rekomendasi Kebijakan

1. Mengukur keberhasilan keterlibatan UMKM dari nilai ekonomi yang tercipta, bukan hanya jumlah stan yang tersedia. Dengan target lebih dari 145 ribu penonton, 25 UMKM yang difasilitasi di dalam sirkuit memiliki akses pada pasar yang besar tetapi dalam waktu yang singkat. Pencatatan omzet, volume transaksi, produk terlaris, jumlah konsumen, dan peluang transaksi lanjutan dapat memberikan gambaran apakah eksposur selama MotoGP benar-benar meningkatkan kapasitas usaha setelah event selesai.

2. Memperluas manfaat MotoGP melalui rantai pasok UMKM di luar sirkuit. Pengalaman 2025 menunjukkan lebih dari 600 UMKM lokal memperoleh manfaat, meskipun hanya sebagian yang terlibat langsung di area event. Ruang manfaat dapat diperluas melalui kebutuhan bahan baku, produk oleh-oleh, hotel dan restoran, transportasi, serta titik penjualan di luar kawasan sirkuit. Dengan begitu, keterbatasan jumlah stan tidak harus membatasi jumlah pelaku lokal yang memperoleh manfaat ekonomi.

3. Menjadikan proses kurasi sebagai awal jalur pembinaan UMKM, bukan seleksi yang berhenti setelah MotoGP. Disperindag telah menilai kesiapan produk dari aspek stok, kualitas, kemasan, pelabelan, harga, display, serta promosi dan pemasaran. Data hasil kurasi tersebut dapat menjadi dasar untuk melihat kebutuhan masing-masing UMKM setelah event, termasuk sertifikasi, kemasan, pembiayaan, pemasaran digital, dan akses pasar. Dengan demikian, standar MotoGP dapat berfungsi sebagai tahapan peningkatan kapasitas usaha.

4. Menghubungkan eksposur selama MotoGP dengan akses pasar setelah event berakhir. MotoGP memberikan konsentrasi konsumen yang tinggi selama tiga hari, tetapi manfaat jangka panjang bergantung pada apakah konsumen dapat kembali menemukan dan membeli produk setelah meninggalkan Mandalika. Integrasi dengan Bale KITA, kanal digital, hotel, pusat oleh-oleh, dan jaringan pemasaran lainnya dapat menjadi ruang untuk mengubah transaksi selama event menjadi hubungan pasar yang lebih berkelanjutan. Disperindag sendiri telah menempatkan Bale KITA sebagai etalase promosi dan pemasaran produk UMKM dalam rangkaian MotoGP 2026.***