Senator Mirah Dorong Modernisasi Alat Tangkap Nelayan Ekas: Bantuan Kapal Harus Diiringi Teknologi dan Penguatan Ekonomi Pesisir
Mirah Midadan Fahmid, menyambut baik rencana Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang akan memberikan bantuan sebanyak 50 unit kapal bagi nelayan di kawasan Ekas
OPINI
MB
8/12/20262 min read


MMF - Anggota DPD RI dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid, menyambut baik rencana Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang akan memberikan bantuan sebanyak 50 unit kapal bagi nelayan di kawasan Ekas, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur. Menurutnya, program tersebut merupakan langkah positif dalam meningkatkan kapasitas armada nelayan. Namun demikian, bantuan kapal harus dibarengi dengan modernisasi alat tangkap, peningkatan keterampilan nelayan, serta penguatan ekosistem perikanan agar manfaatnya benar-benar dirasakan secara berkelanjutan.
"Rencana bantuan kapal ini tentu patut diapresiasi karena menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan nelayan. Namun kita juga harus melihat kebutuhan nelayan secara menyeluruh. Kapal yang lebih besar harus didukung dengan alat tangkap yang modern, aman, dan ramah lingkungan agar produktivitas nelayan dapat meningkat secara signifikan," ujar Senator Mirah.
Ia menilai, kondisi yang disampaikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Timur menunjukkan bahwa potensi sumber daya ikan di perairan Ekas sesungguhnya sangat besar. Akan tetapi, keterbatasan armada dan teknologi membuat sebagian besar nelayan hanya mampu melaut di wilayah yang sempit dengan hasil tangkapan yang masih sebatas memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga.
Menurut Senator Mirah, modernisasi sektor perikanan tidak dapat dilakukan secara parsial. Kehadiran kapal berkapasitas 5 hingga 10 Gross Ton (GT) perlu dilengkapi dengan berbagai perangkat pendukung, seperti alat bantu penangkapan ikan, sistem navigasi, teknologi pencari ikan, hingga sarana penyimpanan hasil tangkapan yang mampu menjaga kualitas ikan setelah ditangkap.
"Jika nelayan sudah mampu melaut hingga 12 mil, maka mereka juga harus dibekali teknologi yang memudahkan mereka menemukan daerah penangkapan ikan secara efektif. Dengan begitu, biaya operasional dapat ditekan, hasil tangkapan meningkat, dan pendapatan nelayan ikut bertambah," jelasnya.
Senator Mirah juga mengingatkan bahwa modernisasi alat tangkap harus tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan sumber daya kelautan. Penggunaan teknologi harus diarahkan pada alat tangkap yang ramah lingkungan sehingga mampu menjaga keseimbangan ekosistem laut sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir dalam jangka panjang.
Selain sektor penangkapan ikan, Senator Mirah turut mengapresiasi berkembangnya aktivitas budi daya rumput laut, ikan, dan lobster di kawasan Teluk Ekas. Menurutnya, pengembangan sektor budi daya merupakan strategi penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap hasil tangkapan laut yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca dan musim.
"Potensi Teluk Ekas sangat besar. Karena itu, pengembangan budi daya perlu terus didukung melalui penyediaan bibit berkualitas, akses permodalan, pendampingan usaha, hingga kemudahan pemasaran agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat," katanya.
Lebih lanjut, Senator Mirah berharap pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat membangun sinergi yang lebih kuat dalam mengembangkan kawasan Ekas sebagai sentra perikanan terpadu. Menurutnya, pembangunan sektor perikanan tidak hanya berfokus pada penyediaan sarana produksi, tetapi juga harus mencakup penguatan infrastruktur pelabuhan perikanan, fasilitas rantai dingin (cold chain), pengolahan hasil perikanan, serta akses pasar yang lebih luas.
"Nelayan kita memiliki semangat dan potensi yang luar biasa. Yang mereka butuhkan adalah dukungan yang menyeluruh agar mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Dengan kebijakan yang tepat, saya optimistis Ekas dapat berkembang menjadi kawasan perikanan yang maju, produktif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Lombok Timur," tutup Senator Mirah.***
