Senator Mirah: Ekspor Tuna ke Amerika Bukti NTB Mampu Naik Kelas dalam Industri Perikanan

Mirah Midadan Fahmid, menilai keberhasilan produk tuna dari Lombok Timur menembus pasar Amerika Serikat menjadi momentum penting bagi penguatan industri kelautan dan perikanan NTB

OPINI

MB

9/24/20262 min read

MMF - Anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid, menilai keberhasilan produk tuna dari Lombok Timur menembus pasar Amerika Serikat menjadi momentum penting bagi penguatan industri kelautan dan perikanan NTB. Ekspor yang dilakukan PT High Point Fisheries (HPF) di Kahyangan, Labuhan Lombok, menunjukkan bahwa komoditas perikanan daerah memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing di pasar global.

“Ini bukan sekadar cerita tentang tuna yang berhasil diekspor ke Amerika. Ini adalah gambaran bahwa NTB memiliki sumber daya kelautan yang dapat diolah menjadi produk dengan standar internasional dan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi daerah,” ujar Mirah.

PT HPF mulai dibangun pada 2022 dan memasuki pasar ekspor pada 2025. Pada tahun pertama, perusahaan merealisasikan 29 kontainer ekspor dengan produksi sekitar 597 ton dan nilai produksi mencapai Rp54,6 miliar. Sementara hingga 21 September 2026, telah terealisasi 18 kontainer ekspor dengan volume lebih dari 355 ton dan nilai produksi Rp43,4 miliar.

Menurut Mirah, capaian tersebut memperlihatkan pentingnya membangun rantai nilai perikanan secara lebih lengkap. NTB tidak cukup hanya menjadi daerah penghasil bahan baku, tetapi perlu terus mendorong pengolahan di daerah sehingga nilai ekonomi komoditas dapat lebih banyak dinikmati masyarakat dan pelaku usaha lokal.

“Ketika tuna ditangkap, kemudian diproses, dikemas, memenuhi standar mutu, dan diekspor dari NTB, maka nilai tambahnya dapat tercipta di daerah. Inilah industrialisasi yang perlu kita dorong,” katanya.

Ia juga menilai keberadaan industri pengolahan seperti HPF memiliki dampak terhadap penciptaan lapangan kerja. Saat ini perusahaan tersebut telah menyerap lebih dari 80 tenaga kerja lokal. Dampak ekonomi tersebut dinilai dapat berkembang lebih luas apabila ekosistem perikanan dari hulu hingga hilir terus diperkuat.

“Industri pengolahan membutuhkan nelayan, tenaga kerja, logistik, transportasi, kemasan, cold storage, hingga berbagai jasa pendukung. Artinya, satu aktivitas ekspor dapat menciptakan rantai ekonomi yang jauh lebih panjang,” ujar Mirah.

Namun, Mirah mengingatkan bahwa peningkatan ekspor harus tetap berjalan bersama dengan prinsip keberlanjutan. Pengelolaan sumber daya tuna perlu memperhatikan ketersediaan stok ikan, praktik penangkapan yang bertanggung jawab, serta perlindungan ekosistem laut agar peningkatan produksi tidak mengorbankan keberlanjutan sumber daya.

Ia mengapresiasi penerapan standar seperti BRC, HACCP, dan Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) yang menjadi bagian penting dalam memenuhi persyaratan pasar internasional.

“Pasar global memiliki standar yang tinggi. Karena itu, keberhasilan ekspor ini harus menjadi pemicu bagi pelaku usaha perikanan lainnya untuk meningkatkan kualitas, sertifikasi, ketelusuran bahan baku, dan standar pengolahan,” tuturnya.

Mirah berharap pemerintah daerah bersama pemerintah pusat terus memperkuat infrastruktur perikanan, akses pembiayaan, teknologi pengolahan, pelatihan tenaga kerja, serta konektivitas logistik. Menurutnya, keberhasilan tuna NTB masuk pasar Amerika seharusnya menjadi awal untuk membuka lebih banyak pasar internasional bagi komoditas unggulan lainnya.

“NTB memiliki laut yang luas dan sumber daya yang besar. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kekayaan tersebut tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah, menciptakan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat posisi NTB dalam rantai perdagangan global,” kata Mirah.***